Kenali 3 Perbedaan Farmasi dan Apoteker

Kedua istilah ini sudah sering terdengar di masyarakat, namun tidak sedikit orang yang masih awam akan perbedaan keduanya. Farmasi dan apoteker tentu dua hal yang berbeda. Namun, keduanya masih seringkali dianggap sejenis atau bahkan sama.

Padahal secara pengertian saja sudah berbeda, tanggung jawab yang diemban, aktivitas yang dilakukan, dan masih banyak lagi perbedaan lainnya. Secara definisi, farmasi meliputi pengetahuan mengenai identifikasi, kombinasi, analisa dan juga standarisasi obat serta pengobatan, termasuk juga sifat – sifat obat dan distribusinya serta dalam hal penggunaannya. Sedangkan, apoteker merupakan gelar profesi bagi seseorang yang telah mengucapkan sumpah jabatan apoteker. Artikel kali ini akan membahas 3 perbedaan utama antara farmasi dan apoteker agar Kamu bisa lebih mengenali keduanya!

  1. Ilmu yang Dipelajari

Farmasi dan apoteker memang terjun dalam dunia obat dan pengobatan. Dalam pendidikan farmasi ada beberapa ilmu dasar yang dipelajari oleh mahasiswa antara lain anatomi fisiologi manusia, anatomi fisiologi tumbuhan, ilmu kimia, teknologi sediaan, farmasetika dan ilmu resep, parasitologi, dan banyak materi lainnya selama kuliah.

Kuliah farmasi juga sering berkecimpung di dalam laboratorium untuk melakukan penelitian sesuai baku mutu pendidikan yang telah ditentukan universitas atau perguruan tinggi tempat menempuh pendidikan. Sedangkan apoteker, selain menyelami ilmu dasar tersebut, harus menjalani pendidikan profesi apoteker.

Dalam pendidikan profesi apoteker biasanya dibagi menjadi beberapa jurusan. Masing-masing jurusan tentu memiliki fokusnya masing-masing, misalkan jurusan apoteker industri, klinik, dan komunitas atau rumah sakit. Jurusan apoteker industri akan lebih banyak menekuni berbagai ilmu terkait industri, mulai dari standarisasi pengolahan obat, manajemen industri, purchasing, produksi, formulasi obat, quality control (QC), quality assurance (QA), IPAL (pengolahan limbah), dan berbagai ilmu terkait industri farmasi.

Tidak hanya obat, tapi juga bisa diterapkan pada industri kosmetik, makanan, dan minuman. Sedangkan jurusan rumah sakit atau klinis atau komunitas berfokus pada ilmu-ilmu pelayanan obat kepada pasien. Juga lebih fokus tentang farmakoterapi obat termasuk efek samping obat dan ilmu resep. Menariknya, ilmu psikologi juga diajarkan di sini karena terkait psikologis menghadapi pasien tidak boleh sembarangan.

  1. Proses yang Harus Dilalui

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, farmasi secara umum adalah semua hal yang meliputi ilmu obat dan pengobatan. Sedangkan terkait profesi, sering juga disebut sebagai farmasis, adalah suatu profesi di bidang kesehatan yang meliputi berbagai kegiatan seperti penemuan, pengembangan, produksi, pengolahan, peracikan, maupun distribusi obat.

Dalam ilmu farmasi sendiri terdapat empat bidang yang dipelajari, diantaranya yaitu farmasi industri, sains, klinik dan obat tradisional. Seorang farmasis harus menempuh pendidikan Sarjana Farmasi yang rata-rata dibutuhkan waktu 4 tahun untuk lulus dan menyandang gelar Sarjana Farmasi.

Berbeda halnya dengan apoteker, dibutuhkan waktu lebih panjang lagi bagi seseorang bisa dikatakan sebagai apoteker. Selain menempuh gelar akademik Sarjana Sains atau Sarjana Farmasi, seseorang harus menempuh pendidikan profesi apoteker hingga menjalankan sumpah jabatan apoteker untuk resmi dilantik sebagai seorang apoteker. Baik farmasi maupun apoteker, keduanya menggeluti bidang obat dan pengobatan.

  1. Hak dan Tanggung Jawab

Berhubungan proses yang dilalui seorang apoteker lebih panjang, tentunya hak dan tanggung jawab pekerjaan yang diemban pun juga berbeda dengan farmasi. Meskipun keduanya mungkin sama-sama bisa bergerak di bidang obat dan pengobatan, namun apoteker dapat mengambil bagian dalam penelitian dan pengembangan racikan produk farmasi ataupun kosmetik.

Sebab urusan peracikan atau formulasi harus ditangani oleh orang yang memang terbukti berkompeten dalam profesi tersebut. Mendesain, memproduksi, dan mendistribusikan obat.

Selain itu, seorang apoteker juga bertanggung jawab dalam pengawasan obat yang diresepkan dokter untuk mendukung penggunaan obat yang rasional, menjelaskan efek samping obat kepada pasien, perhitungan dosis obat yang diberikan kepada pasien, serta melakukan pengajian terhadap kesesuaian farmasetik dengan pertimbangan klinis.

Tidak hanya itu, jika seseorang telah menyandang jabatan apoteker yang dibuktikan dengan Surat Izin Kerja (SIK) dari Menteri Kesehatan, maka diperbolehkan membuka usaha apotek sendiri, yang mana hal ini tidak bisa dilakukan oleh lulusan Sarjana Farmasi saja.

Sebab, untuk membuka usaha apotek sendiri ada beberapa hal yang harus dipenuhi berdasarkan pada PerMenkes RI No.184/Menkes/Per/II/1995 antara lain: ijazahnya sudah terdaftar di Departemen Kesehatan, telah mengucapkan sumpah Apoteker, mempunyai Surat Izin Kerja (SIK) dari Menteri Kesehatan, memenuhi syarat kesehatan fisik dan kesehatan mental untuk melaksanakan tugas sebagai Apoteker, dan tidak sedang bekerja di perusahaan farmasi dan juga tidak menjadi APA di apotek yang lain.

Nah, ketiga poin di atas menjadi perbedaan utama dan mendasar antara farmasi dan apoteker. Semoga bisa memberikan gambaran terkait perbedaan 2 istilah tersebut. Kesimpulannya, farmasi dan apoteker merupakan dua hal yang berbeda dan tidak bisa disamakan. Jadi, jangan sampai keliru lagi ya!