CIRI-CIRI BIOTEKNOLOGI KONVENSIONAL BESERTA PENGERTIANNYA

Produk bioteknologi kian berkembang secara pesat. Bioteknologi sendiri merupakan sebuah cabang ilmu yang telah mempelajari pemanfaatan makhluk hidup seperti bakteri, fungi dan virus atau juga pemanfaatan produk yang terdapat makhluk hidup seperti enzim dan alkohol didalam proses produksinya. Seperti yang kita tahu bahwa bioteknologi terbagi menjadi 2 jenis, yaitu bioteknologi konvensional dan modern. Proses yang mudah dan tidak memakan biaya yang besar merupakan salah satu ciri-ciri bioteknologi konvensional yang menjadi alasan kenapa banyak produk bioteknologi konvensional diminati bagi para pemilik UMKM terlebih selama masa pandemi. Namun tidak hanya itu saja masih ada beberapa ciri-ciri bioteknologi konvensional yang perlu kamu ketahui sebelum memutuskan untuk memulai produksi sebuah produk bioteknologi konvensional. Lalu, sebenarnya seperti apa sih bioteknologi konvensional itu?

INI YANG PERLU KAMU KETAHUI DARI CIRI-CIRI BIOTEKNOLOGI KONVENSIONAL

Bioteknologi konvensional merupakan bioteknologi yang memanfaatkan makhluk hidup atau mikroorganisme secara utuh dan langsung untuk memodifikasi suatu produk tertentu sehingga bisa mencapai hasil yang diinginkan demi keberlangsungan hidup manusia melalui cara, prinsip dan teknologi tertentu. Namun, selain hal tersebut adakah ciri-ciri bioteknologi konvensional yang signifikan jika dibandingkan dengan bioteknologi modern?

Berikut ciri-ciri bioteknologi konvensional:

  • Memanfaatkan Mikroorganisme Secara Utuh

Artinya dari ciri-ciri bioteknologi konvensional ini adalah dengan memanfaatkan mikroorganisme secara langsung tanpa adanya perubahan struktur dari mikroorganisme atau rekayasa genetik dimana mikroorganisme tersebut berfungsi sebagai penentu hasil dari campuran kompleks kimia dan menghasilkan produk bioteknologi konvensional yang diinginkan. Misalnya dalam proses pembuatan tempe menggunakan bakteri Rhizopus oryzae dan tidak adanya rekayasa genetik dalam pembuatan tempe. Itulah yang membuat tempe menjadi salah satu produk bioteknologi konvensional.

  • Menggunakan Prinsip Alami (Fermentasi)

Proses fermentasi merupakan proses yang terbilang mudah, murah dan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Pada umumnya proses fermentasi merupakan proses konversi gula menjadi asam organik atau alkohol. Beberapa contoh produk bioteknologi yang menggunakan ciri-ciri bioteknologi konvensional satu ini adalah tapai. Terdapat 3 jenis fermentasi yang bisa menjadi bahan pertimbangan dalam membuat sebuah produk fermentasi berdasarkan proses kerjanya, yaitu 

  • Batch Fermentation, merupakan proses fermentasi paling cepat dan sederhana karena hanya dilakukan sekali fermentasi dan langsung panen.
  • Fed Batch Fermentation, proses fermentasi satu ini selama masa fermentasi mengalami penambahan nutrien dan starter/inokulum dalam medium. 
  • Continuous Fermentation, proses fermentasi ini dilakukan secara terus menerus dan juga ditambahkan nutrient dan starter secara terus menerus selama proses fermentasi terjadi.
  • Menggunakan Alat dan Bahan Sederhana

Salah satu juga yang menjadi ciri bioteknologi konvensional adalah alat dan bahan yang digunakan selama proses pembuatan produk bioteknologi bisa didapatkan dengan mudah bahkan sering ditemukan di dalam perabotan rumah tangga. Sehingga semua orang dapat membuat produk bioteknologi konvensional ini di rumah dan kapanpun. Salah satu contoh riil adalah pembuatan roti dimana siapapun yang memiliki oven atau pengukus dan bahan-bahan utama membuat roti bisa memulai untuk produksi roti yang merupakan salah satu contoh produk bioteknologi.

  • Tidak Memerlukan Keahlian Khusus untuk Membuatnya

Kriteria bioteknologi konvensional memang membuka peluang besar bagi siapapun yang ingin belajar untuk membuat sebuah produk bioteknologi konvensional dan bisa dijadikan salah satu ladang usaha. Karena produk bioteknologi konvensional menggunakan prinsip fermentasi (alami) sehingga kamu tidak perlu memiliki keahlian khusus untuk melakukannya. Hanya dengan belajar dan berlatih secara otodidak pun kamu bisa membuat beberapa produk bioteknologi konvensional ditambah lagi dengan perkembangan teknologi informasi yang cepat, memungkinkan setiap orang untuk belajar dari berbagai sumber salah satunya adalah melalui internet. 

  • Skala Produksi Kecil dan Biaya yang Relatif Murah

Mudahnya mencari alat dan bahan serta tidak diperlukannya keahlian khusus dalam membuat suatu produk bioteknologi konvensional menjadi satu faktor yang mempengaruhi biaya yang dikeluarkan ketika membuat produk bioteknologi konvensional. Tidak hanya itu, ciri-ciri bioteknologi konvensional juga tidak memerlukan riset yang panjang atau bahkan sampai merekrut tenaga ahli khusus. Biasanya bioteknologi konvensional juga dilakukan dalam skala produksi kecil, tetapi tidak menutup kemungkinan juga untuk diproduksi secara massal. Misalnya keju, biasanya keju diproduksi di rumah untuk orang-orang yang tinggal di daerah peternakan dimana bahan dasar pembuatan keju adalah susu dan beberapa bakteri serta enzim yang diperlukan untuk membuat keju. Tetapi faktanya kini keju juga diproduksi massal oleh pabrik untuk mempermudah kehidupan manusia yang tidak tinggal di daerah peternakan atau di tempat yang jauh dari tempat produksi dairy products seperti Indonesia. Keju pabrik memang tidak terbuat dari 100% susu, tetapi hal ini bisa menurunkan harga keju menjadi lebih ekonomis dan lebih mudah untuk dijangkau masyarakat di Indonesia.

Nah, demikian penjelasan mengenai ciri-ciri bioteknologi konvensional. Untuk membuat sebuah produk bioteknologi konvensional memang relatif lebih mudah dan lebih murah. Namun kamu juga perlu memperhatikan jenis-jenis mikroorganisme yang akan kamu pakai dan metode apa yang akan kamu gunakan untuk memproduksi sebuah produk bioteknologi konvensional. Setelah kamu pahami betul kelima kriteria bioteknologi konvensional, kira-kira apakah kamu sudah siap melakukan inovasi baru dalam bidang bisnismu dengan mengaplikasikan bioteknologi konvensional di dalamnya?